Langsung ke konten utama

Sastra dengan Pendekatan Unsur-Unsur Ekstrinsik dan Intrinstik

Pendekatan yang terdapat pada Studi Sastra

Pendekatan Ekstrinsik.

Yang paling sering dibahas dalam kajian studi sastra ialah latar (setting), lingkungan (environment), dan hal-hal yang bersifat eksternal lainnya. Metode ekstrinsik ini tidak hanya tebatas pada studi sastra lama, akan tetapi juga dapat diterapkan pada kesusastraan modern. Adapun istilah historis yang seringkali kita dengar dalam setiap kajian ilmu sastra, ia tidaklah mengacu pada sastra lama saja, namun juga yang berkaitan dengan perubahan sastra sesuai dengan perubahan waktu suatu permasalahan sejarah. 

Suatu karya sastra terbentuk dikarenakan ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, yakni diantaranya faktor sejarah, dan faktor lingkungan. Namun permasalahan yang nyata akan terlihat apabila kita menilai, membandingkan, dan memilah-milah setiap faktor yang diduga menentukan karya seni.

Seringkali hanya dengan sejumlah khusus tindakan manusia, yang dianggap sebagai faktor pembentuk karya seni. Misalnya, ada yang menganggap bahwa suatu karya seni itu adalah hasil dari penciptanya sendiri. Oleh karena itu, dalam hal ini sastra harus dipelajari lebih dalam lagi melalui biografi dan psikologi pengarangnya. Adapun cakupan dari pendekatan ekstrinsik ini cukup luas, diantaranya adalah :

1. Sastra dan Biografi

Sebab utama lahirnya suatu karya sastra tidak lain dan tidak bukan adalah penciptanya sendiri. Hal itulah yang menjadi sebab bahwa penjelasan tentang kehidupan dan kepribadian pengarang adalah metode yang paling mapan dalam studi sastra.

Menurut Coleridge, Biografi hanya menilai dan memberi masukan kepada pencipta suatu karya sastra. Tetapi biografi juga dapat dinikmati karena mempelajari hidup pengarang yang genius, menelusuri perkembangan mental, intelektual, dan moralnya, yang menarik, biografi juga dianggap sebagai studi yang sistematis tentang psikologi pengarang dan proses kreatifnya.

Tiga sudut pandang ini perlu dibedakan. Yang terkait dengan studi sastra adalah pada pandangan yang pertama itu diartikan bahwa biografi menerangkan dan menjelaskan proses penciptaan karya sastra yang sebenarnya.

Sudut pandang kedua, mengalihkan pusat perhatian dari suatu karya ke pribadi si pengarang. Adapun yang ketiga, memperlakukan biografi sebagai bahan untuk ilmu pengetahuan atau psikologi penciptaan yang artistik.

Biografi merupakan genre yang sangat kuno. Awalnya biografi ini masuk kedalam bagian historiografi, akan tetapi, setelah pendapat Coleridge seperti yang diatas muncul, biografi dan historiografi mulai terpisah. Biografi tidak membedakan profesi, seperti negarawan, jendral, arsitek, pengangguran, dll. Pengarang dianggap sebagai orang biasa yang memiliki perkembangan moral, Intelektual, karir, dan emosi yang dapat direkonstruksi dan dinilai berdasarkan standar tertentu (Sistem nilai etika dan norma-norma perilaku tertentu). 

2. Sastra dan Psikologi

Psikologi sastra melakukan kajian sastra dengan memandang karya sastra sebagai kegiatan kejiwaan baik dari sang penulis maupun para pembacanya. (Kinanti 2006). 

Istilah psikologi sastra mempunyai 4 kemungkinan, yakni :
- Studi psikologi pengarang sebagai tipe atau proses pribadi, maksudnya adalah bahwa pembawaan pengarang memiliki pengaruh terhadap apa yang ia bawa. 
- Studi proses kreatif, yang meliputi seluruh tahapan, mulai dari dorongan bawah sadar yang sehingga dapat melahirkan karya sastra yang dilakukan oleh pengarang.
- Studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra.
- Mempelajari dampak sastra pada pembaca.

Secara umum bab ini menjelaskan bagaimana suatu karya sastra terbentuk melalui berbegai pendekatan psikis yang berbeda-beda dan bagaimana kaitannya dengan karya sastra. 

Berikut ulasannya :  

Pada Yunani Kuno, kejeniusan sastrawan selalu menjadi pergunjingan yang disebabkan oleh semacam kegilaan (madness) dari tingkar neurotic sampai psikosis. Penyairnya dianggap sebagai orang yang kesurupan . konsepsi zaman dulu yang bertahan hingga sekarang adalah anggapan bahwa bakat penyair merupakan ganti dari sesuatu yang hilang, hal ini berdasar dari kisah Dewi Musik (Muse) mengambil penglihatan demodecos, tetapi kemudian menggantinya dengan “kemampuan music yang menawan”.

Hal ini menjadi sebab munculnya pemikiran bahwasannya ada hubungan yang kuat antara “kekurangan” dan “bakat” dalam diri sastrawan. Dan kekurangan ini dapat berupa psikologis dan sosial. Pengarang sekarang sudah mulai meninggalkan freudianisme dan berhenti membuat psikoanalisa .
Seni sebagai gangguan emosi.

Teori ini menghubungkan adanya hubungan antara imajinasi dengan kepercayaan. Apakah novelis sama dengan anak kecil yang “suka ngarang” ? menuliskan pengalamannya sendiri ataukah pengarang seperti orang yang mengalami halusinasi, mencampuradukkan khayalan dan kenyataan?. T.S Eliot, sebelum tulisan2nya yang pertama, memiliki pandangan bahwa penyair dianggap mengulangi kembali-atau tetap mempertahankan-hubungan dengan masa kanaknya dan masa muda umat manusia, sementara ia melangkah ke masa depan.

Sejumlah novelis mempunyai kemampuan yang dimiliki anak-anak yaitu membayangkan hal-hal eiditic (bayangan yang bersifat indriawi, bukan berdasarkan ingatan atau tiruan atas objek tertentu). Tentunya dalam beberapa kasus seni sebagai gangguan emosi dapat kita lihat juga dalam tipologi sastrawan yang “kesurupan” (penuh emosi, menulis dengan spontan dan yang meramal masa depan) mereka yang biasanya adalah penyair shaman, surealis, romantic.

Juga ada pula sastrawan “pengrajin” yang penuh keterampilan, terlatih dan penuh tanggung jawab (tentunya ini sangat jauh berbeda).

Inspirasi. Dalam menulis, kita akan terbawa dalam keadaan bawah sadar yang secara tradisional bisa disebut dengan “inspirasi”. Secara mitologi, dewi Muse sering dihubung-hubungkan dalam proses ini sebagai putri dari ingatan, agama Kristen menganggap “inspirasi” datang dari Roh Kudusataupun pada zaman primitif, shaman/peramal/penyair biasanya dapat membuat dirinya mengalami kesurupan arwah nenek moyang atau totem. Sedangkan pada zaman ini (modern tentunya) mengira dan mempelajari inspirasi datang dari sebuah proses kreatif.

Terkadang para penulis mendatangkan sendiri inspirasi dengan mengupayakan kebiasaan kreatif dan ritual serta rangsangan dengan cara meminum alkhohol, opium dan obat penenang yang dapat menurunkan kesadaran dan sensor kritis dari pikiran dan melepas gejolak alam bawah sadar. Tentunya, banyak penulis yang memiliki kebiasaan unik dalam menulis. Schiller menaruh apel busuk di atas meja kerjanya, Balzac menulis sambil memakai baju biarawan, Prost dan Mark Twain (dua penulis yang tentunya sangat terkenal ), memiliki kebiasaan yang sama : menulis sambil berbaring di ranjang, ada pula yang membutuhkan ketenangan tetapi ada pula yang menulis dalam malam hari dan tidur si siang hari (seperti pengagungan malam hari dalam tradisi Romantik).


Lalu, bagaimana psikologi memperngaruhi karya sastra ?

Dalam pendekatan Tokoh-tokoh dalam drama dan novel,muncul pertanyaan apakah “benar” secara psikologis? Nyatanya itu menjadi pertanyaan yang cukup sensitif, dan yang harus kita pikirkan bukanlah benar atau tidak, namun relevan atau tidak? Bukannya begitu. Banyak karya sastra yang menyimpang dari standar psikologi sezaman atau sesudahnya. Seperti halnya tuntunan menggambarkan realism sosial dalam karya sastra, tuntutan kebenaran psikologis adalah standar yang tidak absah.

Psikologi menambah nilai artistik karena menunjang koherensi dan kompleksitas karya, tetapi pemikiran psikologi tidak dicapai melalui itu saja. Pengetahuan teori psikologi yang sadar dan sistematis mengenai pikiran manusia tidak penting untuk seni dan tidak bernilai seni. Dan nyatanya memang seperti itu.

3. Sastra dan Masyarakat 

Sastra menyajikan kehidupan dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun suatu karya sastra juga dapa tmeniru alam dan dunia subjektif manusia. Pembahasan hubungan sastra dan msyarakat biasanya bertolak dari Frase De Bonald. Ia menyatakan bahwa sastra merupakan “ suatu ungkapan dari masyarkat”. (Litearature is an expression of society).

Masalah yang berbau penilaian atau kritik dapat ditemukan dengan menemukan hubungan yang nyata antara sastra dan masyarakat. Hubungan yang bersifat dekriptif, diantaranya :
- Sosiologi pengarang, profesi pengarang, institusi sastra.
- Isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri.
- Permasalahan pembaca dan dampak sosial karya sastra. 

Karena setiap pengarang adalah warga masyarakat, dia dapat mempelajari sebagai makhluk sosial . Keterlibatan sosial, sikap, dan ideologi pengarang dapat di pelajari tidak hanya melalui karya karya mereka, tetapi juga dari dokumen biografi.

Pengarang adalah seorang masyarakat yang tentunya mempunyai pendapat tentang masalah-masalah politik dan sosial yang penting , serta mengikuti isu isu zamaannya .
Kecenderungan umum zaman modern dan sastra barat adalah melemahnya pertalian antara sastrawan dengan kelas sosialnya.

Posisi sastrawan dalam masyarakat dapat di telusuri secara jelas dalam sejarahnya . Dahulu banyak sastrawan yang menghasilkan sastra untuk di uangkan, dalam artian di jual kepada para pelindung dan hal itu mungkin masih di lakukan pada saat ini  . jadi studi dasar ekonomi dan status sosial pengarang mau  tak mau harus memperhitungkan pembaca yang menjadi sasaran pengarang dan menjadi sumber rezekinya.

Stratifikasi setiap kelompok masyarakat terdiri dari statifikasi seleranya . norma kelas atas sering menular ke kelas bawah . sastrawan di pengararuhi dan mempengaruhi masyarakat , seni tidak hanya meniru kehidupan , tetapi juga pembentuknya pendekatan yang umum dilakukan  terhadap  hubungan sastra dan masyarakat adalah mempelajari sastra sebagai hubung sosial , potret keyataan sosial. Sebagai dokumen sosial , sastra dipakai untuk menguraikan ikhtisar sejarah sosial namun , penelitian semacam ini kurang bermanfaaf jika memukul rata sastra adalah  cerminan kehidupan, sebuah reproduksi atau sebuah dokumen sosial. Penelitian semacam itu baru berarti kalau kita meneliti metode artistik yang di gunakan novelis .

Latar karya sastra yang paling dekat adalah tradisi linguistik dan sstranya. Tradisi ini di benuk oleh iklim budaya yang berlangsung. Sastra hanya berkaitan secara tidak langsung dalam situasi ekonomi , poltik , dan sosial yang kontrek . tentu saja semua segi aktifitas manusia saling berkaitan pada akhirnya kita dapat melihat hubungan antara cara produksi dengan sastra karena sistem ekonomi menyiratkan bentuk sistem kekuasaan yang pada akhirnya, mengontral bentuk kehidupan keluarga .

Situasi sosial memang menentukan kemungkinan dinyatakan nilai nilai estetis, tapi tiak secara langsung menentukan nilai nilai itu sendiri , kita dapat mempelajari secara garis besar , bentuk bentuk seni apa yang mungkin timbul pada suatu msyarakat , dan mana yang tida mungkin muncul . tetapi sulit untuk meramalkan bahwa bentuk sastra  tentu pasti akan muncul.

4. Sastra dan pemikiran 

Sastra di analisis untuk mengungkapkan pemikiran pemikiran hebat memang karya sastra dapat di anggap sebagai dokumen sejarah pemikiran atau filsafat , karena sejarah sastra pemikirannya secara langsung atau melalui alusi alusi dalam karyanya . kadang kadang pengarang menyatakan bahwa ia menganut aliran filsafat tertentu mempunyai hubungan dengan paham paham yang dominan pada zamannya atau paling tidak mengetahui garis besar ajaran paham paham tersebut .

Menurut Lovejoy metodenya berbeda dengan filsafat dalam dua hal yang pertama studi filsafat hanya mencakup pemikiran pemikiran besar , sedangkan kedalam sejarah pemikiran Lovejoy juga memasukkan pemikir pemikir yang kurang terkenal. Yang kedua sejarah filsafat mempelajari sistem sistem besar , sedangkan sejarah pemikiran menelusuri bagian dari sistem itu , yakni motif motif pribadi.

Lovejoy mengungkapkan bahwa pemikiran ditentukan oleh asumsi dan kebiasaan mental tidak disadari. Ia melihat bahwa pemikiran manusia di pengaruhi oleh berbagai macam pathos metafisik , bahwa pemikiran itu sering di wujudkan dalam frase dan kata kata kunci yang harus di pelajari secara semantik .
Rudolf Unger berpendapat bahwa sastra bukanlah filsafat yang diterjemahkan dalam pencitraan dan sajak melainkan ekspresi suatu sikap yang umum terhadap kehidupan.

Studi sikap pengarang semacam itu mendorong para pemikir inggris untuk menjajaki kemungkinan menyederhanakan masalah sikap pengarang dalam klasifikasi berdasarkan tipe Weltanschauung , istilah ini mencakup pemikiran pemikiran filosofis dan sikap yang berdasarkan perasaan .
Geistegeschichte adalah istilah yang menggantikan istilah Lovejoy.

Teori ini berasumsi bahwa setiap periode memiliki semangat zaman dan teori ini berusaha untuk merekontruksi semanagat dari suatu zaman yang berbeda dari berbagai objektifasi suatu zaman hubungan sastra dengan seni rupa dan seni musik sangat beragam dan rumit. Kadang puisi mendapat inspirasi dari lukisan , patung , atau musik . sastra juga bisa menjadi tema seni lukis atau musik .karya sastra sering menghasilkan efek yang sama dengan efek sebuah lukisan atau menghasilkan efek musikal .hal hal objektif yang dapat di analisis dari puisi itu adalah matra yang Lamban dan serius ,  dan diksi yang aneh sehingga orang harus memperhatikan tiap tiap katayang membentuk nsur musik dalam sajak kalau di analisis ternyata berbeda Dengan melodi musik. 

Unsur musik disini lebih merupakan hasil fonetik , penghindaran akumulasi konsonan atau efek tertentu . jadi kesejajaran dua cabang yang hanya di dasari pada reaksi emosional penonton saja tidak akan membantu meningkatkn pengetahuan . salah satu pendekatan lain adalah dena mencari maksud dan teori keseniman penciptanya.

Pendekatan yang lebih bermanfaat dari pendekatan melalui maksud pengarang adalah perbandingan karya seni berdasarkan latar sosial dan budaya yang sama. Pendekatan utama untuk membandingkan beberapa cabang seni adalah analisis objek seni yang kontrek. Jadi yang di lihat adalah hubungan struktural.

Pendekatan Instrinsik

1. Gaya dan Stilistika

Karya sastra hanyalah seleksi dari beberapa bagian dari suatu bahasa tertentu. F.W Bateson mengemukakan bahwa sastra adalah bagian dari sejarah umum bahasa dan sangat tergantung dengannya. Dalam tesisnya ia menyatakan : “ Pengaruh zaman pada sebuah puisi tidak dapat dilihat dari penyairnya, tapi dari bahasa yang dipakainya”. Stilistika tidak dapat diterapkan dengan baik tanpa dasar linguistic yang kuat, karena salah satu perhatian utamanya adalah kontras sistem bahasa karya sastra dengan penggunaan bahasa pada zamannya. Manfaat stilistika yang sepenuhnya bersifat estetis.

2. Sejarah sastra

Seperti namanya, sejarah sastra dibentuk memang untuk mempelajari bagaimana kesejarahan dari kesusastraan tersebut. Teori, kritik, dan sejarah sastra merupakan aspek-aspek yang tidak dapat dipisahkan, keberadaan mereka cenderung mirip antara satu dengan yang lainnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosa dan Unsur-Unsur Pembangunnya

1. Pengertian Prosa Prosa adalah suatu jenis karya sastra yang dibedakan dengan puisi karena variasi rime yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata Prosa berasal dari bahasa Latin “prosa”, yang artinya “terus terang”. Prosa menurut KBBI merupakan suatu karangan bebas (tidak terikat oleh kaidah yang terdapat dalam puisi). Adapun jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, serta berbagai jenis media lainnya. Arti tulisan didalam prosa bersifat denotatif atau tulisan yang mengandung makna yang sebenarnya, walaupun terdapat kata kiasan di dalamnya, itu hanya berfungsi sebagai ornamen untuk memperindah tulisan dalam prosa tersebut. Prosa juga dibagi dalam 2 bagian, yaitu prosa lama dan prosa baru. Prosa lama adalah prosa bahasa Indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat, sedangkan prosa baru adalah prosa ya...

Puisi dan Unsur-Unsur Pembangunnya

PUISI Secara etimologi , kata puisi dalam bahasa yunani yaitu poesis ynag artinya penciptaan.  Adapun puisi adalah bentuk karya sastra yang terikat oleh irama, rima dan penyusun bait dan baris yang bahasanya terlihat indah dan penuh makna. puisi ini terdiri dari puisi lama dan puisi baru. puisi lama adalah pantun dan syair. sedangkan puisi baru tidak terikat pada bait, jimlah baris, atau sajak dalam penulisannya. sehingga puisi baru disebut puisi bebas. Shahnon Ahmad (dalam pradopo, 1993;6) mengumpulkan definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantic inggris sebagai berikut.  1. Samuel Taylor Coleridge Mengatakan puisi adalah kata-kata yang terindah dari susunan yang terindah. penyair memilih kata-kata yang sangat tepat dan disusun dengan sebaik-baiknya. misalnya seimbang, simetris, antara satu unsure dengan unsure lainnya yang erat hubungannya dan sebagainya. 2. Carlyle Mengatakan puisi adalah pemikiran yang bersifat musical. penyair mencip...