Langsung ke konten utama

Prosa dan Unsur-Unsur Pembangunnya



1. Pengertian Prosa

Prosa adalah suatu jenis karya sastra yang dibedakan dengan puisi karena variasi rime yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata Prosa berasal dari bahasa Latin “prosa”, yang artinya “terus terang”. Prosa menurut KBBI merupakan suatu karangan bebas (tidak terikat oleh kaidah yang terdapat dalam puisi).

Adapun jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, serta berbagai jenis media lainnya. Arti tulisan didalam prosa bersifat denotatif atau tulisan yang mengandung makna yang sebenarnya, walaupun terdapat kata kiasan di dalamnya, itu hanya berfungsi sebagai ornamen untuk memperindah tulisan dalam prosa tersebut.

Prosa juga dibagi dalam 2 bagian, yaitu prosa lama dan prosa baru. Prosa lama adalah prosa bahasa Indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat, sedangkan prosa baru adalah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apapun dan sudah terpengaruh oleh budaya barat.

Adapun ciri-ciri dari prosa itu sendiri, yaitu :

- Bentuknya Bebas
Seperti yang sudah dijelaskan tadi, bentuk prosa itu tidak terikat oleh kaidah yang terdapat dalam puisi, yaitu baris, bait, suku kata, dan irama. Umumnya bentuk prosa adalah rangkaian kalimat yang membentuk paragraf, misalnya dongeng, hikayat, dll. Prosa juga dapat disajikan dalam bentuk lisan maupun tulisan.

- Memiliki Tema
Setiap prosa pasti memiliki tema yang menjadi dasar dalam cerita dan merupakan pokok bahasan di dalamnya.

- Mengalami Perkembangan
Prosa selalu mengalami perkembangan karena dipengaruhi oleh perubahan yang ada di masyarkat.

- Terdapat Urutan Peristiwa
Biasanya, didalam prosa terdapat alur cerita yang menjelaskan urutan peristiwa. Alur tersebut berupa alur maju, alur mundur, dan alur campuran.

- Terdapat Tokoh di dalamnya
Seperti halnya karya sastra lain, di dalam prosa juga terdapat tokoh, baik itu manusia, hewan maupun tumbuhan.

- Terdapat Latar
Di dalam prosa terdapat latar tempat, waktu, dan suasana.



2. Unsur-Unsur Pembangun Prosa

Unsur pembangun prosa terdiri dari struktur dalam(intrinsik) serta struktur dari luar (ekstrinsik). Unsur Intrinsik prosa terdiri dari tema, amanat, alur, tokoh, latar, sudut pandang, serta bahasa yang dipergunakan pengarang untuk mengekspresikan gagasannya. Adapun unsur ekstrinsik prosa terdiri dari nilai-nilai dalam cerita (agama, moral,  budayai) dan latar belakang kehidupan pengarng, serta situasi sosial ketika karya tersebut diciptakan.

A. Unsur Intrinsik 

Menurut Mahayana (2006 : 244), pendekatan intrinsik pada dasarnya sama dengan analisis struktural. Karya sastra dianggap di dalamnya mempunyai sejumlah elemen atau peralatan yang saling berkaitan dan masing-masing mempunyai fungsinya sendiri.

Pendekatan Intrinsik mencoba menjelaskan fungsi dan keterkaitan unsur tanpa menghubungkan dengan faktor luar, seperti biografi pengarang, latar belakang penciptaan, atau keadaan dan pengaruh karya sastra kepada pembacanya.
Unsur Intrinsik menurut Nurgiyantoro (2005 : 23) merupakan unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inila yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra.

- Tema 

Tema merupakan suatu yang menjadi pokok masalah atau persoalan sebagai bahan karangan, yang diungkapkan dalam suatu cerita oleh pengarang. Tema menurut Kamus Besar Bahasa Indoensia (KBBI) merupakan pokok pikiran, dipakai sebagai dasar mengarang.

Adapun Pengertian Tema Menurut Para Ahli :

Hartoko dan Rahmanto (dalam Nurgiyantoro, 2005 : 68) mengemukakan bahwa, tema merupakan gagasan dasar yang merupakan gagaasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung didalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan dan perbdaan.

Menurut Aminuddin (1987 : 227-233), ia mengemukakan bahwa, untuk memahami unsur-unsur signifikasi yang membangun suatu cerita, lalu menyimpulkan makna yang dikandungnya, serta mampu menghubungkannya dengan tujuan pennciptaan pengarangnya.

- Amanat

Amanat merupakan pesan-pesan yang terkandung dalam suatu karya sastra, yang disampaikan oleh pengarang melalui cerita yang di karangnya. Amanat utama harus merujuk pada tema, dan amanat atau pesan moral lainnya dapat ditemukan tersebar dalam cerita.

Cara menyampaikan amanat dapat dengan 2 cara, yaitu :
1. Secara eksplisit (terang-terangan), yakni pengarang mengemukakan pesannya secara langsung, maksudnya disampaikan secara langsung di dalam cerita.
2. Secara Implisit (tersirat/tersembunyi), yakni tidak dinyatakan secara jelas atau terang-terangan. Yang disampaikan secara tersembunyi oleh pengarang dan hanya bisa dimengerti penikmat suatu karya tersebut apabila mengikuti alur cerita. Amanat tersirat ini berupa pesan yang bisa diambil dalam cerita, baik secara keseluruhan ataupun pada bagian tertentu.

- Alur / Plot

Alur atau plot merupakan urutan atau kronologi peristiwa yang dilukiskan pengarang dalam suatu cerita. Alur dalam suatu karya sastra mengatur bagaimana suatu tindakan-tindakan yang terdapat dalam cerita harus berkaitan satu sama lain.

Adapun menurut Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2005 : 113), mengemukakan bahwa alur / plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat. Peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.

Jenis-jenis alur/plot :
1. Alur Maju, yakni suatu alur yang peristiwa ditampilkan sesuai kronologis, secara berurutan dari tahap awal, tengah, hingga akhir.
2. Alur Mundur, yakni suatu alur yang ceritanya dimulai dengan penyelesaian. Alur jenis ini biasa sering ditemukan dalam sebuah cerita yang memakai setting waktunya pada masa lampau.
3. Alur Campuran, yakni suatu alur yang diawali dengan klimaks dari cerita, yang kemudian melihat lagi pada masa lampau dan diakhiri dengan sebuah penyelesaian dari cerita tesebut. Alur ini juga bisa dimulai dari alur maju maupun mundur.


- Tokoh dan Penokohan

Tokoh merupakan pelaku di dalam cerita dan mengambil peranan dalam cerita tersebut. Menurut Aminuddin (2002 : 79), ia menyebutkan bawha tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. 

Berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh dapat dibedakan dari segi peranan, yaitu :

1. Tokoh Utama, adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam suatu karya sastra, misalnya cerpen, novel, dll.
2. Tokoh Tambahan, adalah tokoh yang hanya melengkapi dalam bentuk konflik.
Berdasarkan dari sifat tokoh, ada 2 jenis tokoh, yaitu :
3. Tokoh Protagonis. Tokoh Protagonis merupakan tokoh yang memperjuangkan kebenaran dan kejujuran, serta memiliki watak yang baik.
4. Tokoh Antagonis. Tokoh Antagonis merupakan tokoh yang melawan kebenaran dan kejujuran, serta memiliki watak yang jelek.

Istilah tokoh mengacu pada pelaku cerita. Sedangkan penokohan mengacu pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak-watak tertentu dalam sebuah cerita.
Penokohan merupakan watak atau karakter dari para tokoh di dalam suatu cerita. Menurut Jones dalam Nurgiyantoro (1995 : 165), ia mengemukakan bahwa, penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. 

Penokohan dan perwatakan sangat erat kaitannya. Penokohan berhubungan dengan cara pengarang menentukan dan memilih tokoh-tokohnya serta memberi nama tokoh tersebut. Sedangkan perwatakan berhubungan dengan bagaimana watak tokoh tersebut.   

- Latar 

Menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2005 : 216), ia mengemukakan bahwa setting atau latar disebut juga sebagai landas tumpu, mengarah pada pengertian tempat, waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan.
Unsur latar setting atau dapat dibedakan dalam tiga unsur pokok, yaitu : 
1. Latar Tempat
Latar tempat adalah mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya atau cerita.
2. Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah ‘kapan’ terjadinya  peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam suatu karya atau cerita.
3. Latar Sosial
Latar sosial adalah latar yang menyarankan pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya atau cerita.

- Sudut Pandang

Menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro : 248), ia menyebutkan bahwa sudut pandang adalah cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajian tokoh, tindakan latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya sastra kepada pembaca.

Sudut pandang merupakan arah pandang seseorang penulis dalam menyampaikan sebuah cerita, sehingga cerita tersebut lebih hidup dan tersampaikan dengan baik pada pembaca atau pendengarnya.

Menurut Teori Sastra, sudut pandang sendiri terbagi menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Sudut Pandang Orang Pertama
Sudut pandang orang pertama biasanya menggunakan kata ganti “aku” atau “saya”, atau juga “kami”. Pada saat menggunakan sudut pandang oang pertama, penulis seakan-akan menjadi salah satu tokoh dalam cerita yang dibuatnya dan menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut.
2. Sudut Pandang Orang Ketiga
Sudut pandang orang ketiga biasanya menggunakan kata ganti “dia” atau “ia” atau nama tokoh dan juga mereka (jamak). 
Sementara itu, secara umum terdapat berbagai macam teori tentang sudut pandang. Diantaranya ada sudut pandang campuran. Pada sudut pandang campurn, si penulis dapat menggabungkan antara sudut pandang orang pertama, dan sudut pandang orang ketiga. Ada kalanya si penulis ‘masuk’ kedalam cerita (ukan sebagai tokoh utama) dan ada kalanya ia berada diluar cerita menjadi orang yang serba tahu.


- Gaya Bahasa

Gaya bahasa disebut juga style bahasa, yaitu cara yang digunakan oleh si pengarang untuk mengungkapkan maksud dan tujuannya baik dalam bentuk kata, kelompok kata, kalimat (struktur) biasa/majas.

Menurut H.B Jassin, gaya bahasa adalah perihal memilih dan mempergunakan kata sesuai dengan isi yang mau disampaikan. Sedangkan menurut Nata Wijaya (1986 : 73), gaya bahasa adalah pernyataan dengan pola tertentu, sehingga mempunyai efek tersendiri terhadap pembaca atau pendengar).

B. Unsur Ekstrinsik

Unsur Ekstrinsik prosa merupakan faktor luar yang mempengaruhi pengarang pada saat penciptaan cerita, seperti kondisi sosial, eknomi, ideologi, politik, agama, budaya, dll.

Unsur ekstrinsik juga merupakan unsur yang ikut membangun penyusunan suatu karya sastra.

Unsur ekstrinsik prosa meliputi :
Nilai-Nilai dalam Cerita (agama, moral,  budaya). Nilai yang terkandung adalah salah satu unsur penting dalam sebuah karya sastra.
1. Nilai Agama
Nilai agama yaitu nilai-nilai dalam cerita yang sangat berkaitan dengan ajaran yang berasal dari ajaran agama
2. Nilai Moral
Nilai moral merupakan nilai-nilai dalam cerita yang sangat berkaitan dengan akhlak atau etika. Nilai moral dalam sebuah cerita bisa jadi nilai moral yang baik, tetapi juga bisa nilai moral yang buruk atau jelek.
3. Nilai Budaya
Nilai budaya merupakan nilai-nilai yang berkenaan dengan kebiasaan atau tradisi atau adat istiadat yang berlaku pada suatu daerah.

- Latar Belakang Kehidupan Pengarang

Latar belakang kehidupan pengarang dapat terdiri dari 3 bagian 
1. Biografi 
Biografi ini berisi tentang riwayat hidup pengarang yang ditulis secara keseluruhan.
2. Kondisi Psikologis
Kondisi psikologis ini berisi tentang pemahaman mengenai kondisi mood serta keadaan yang mengharuskan seorang pengarang menulis siatu cerita.
3. Aliran Sastra
Seorang penulis pasti akan mengikuti aliran sastra tertentu. Ini sangat berpengaruh dalam gaya penulisan yang dipakai penulis dalam menciptakan sebuah karya.

- Situasi Sosial  Ketika Cerita itu diciptakan.
Pengaruh kondisi latar belakang masyarakat sangatlah besar terhadap terbentuknya sebuah cerpen atau karya sastra. Pemahaman itu berupa : ideologi negara, kondisi politik, kondisi sosial, kondisi ekonomi masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi dan Unsur-Unsur Pembangunnya

PUISI Secara etimologi , kata puisi dalam bahasa yunani yaitu poesis ynag artinya penciptaan.  Adapun puisi adalah bentuk karya sastra yang terikat oleh irama, rima dan penyusun bait dan baris yang bahasanya terlihat indah dan penuh makna. puisi ini terdiri dari puisi lama dan puisi baru. puisi lama adalah pantun dan syair. sedangkan puisi baru tidak terikat pada bait, jimlah baris, atau sajak dalam penulisannya. sehingga puisi baru disebut puisi bebas. Shahnon Ahmad (dalam pradopo, 1993;6) mengumpulkan definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantic inggris sebagai berikut.  1. Samuel Taylor Coleridge Mengatakan puisi adalah kata-kata yang terindah dari susunan yang terindah. penyair memilih kata-kata yang sangat tepat dan disusun dengan sebaik-baiknya. misalnya seimbang, simetris, antara satu unsure dengan unsure lainnya yang erat hubungannya dan sebagainya. 2. Carlyle Mengatakan puisi adalah pemikiran yang bersifat musical. penyair mencip...