Langsung ke konten utama

Sastra dan Bidang-Bidang Lainnya

IImu Sastra dan cabangnya

Ilmu Sastra adalah ilmu yang menyelidiki tentang karya sastra secarailmiah dengan berbagai gejala dan masalah sastra. Sedangkan, Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium, dan Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Seorang penelaah sastra harus dapat menerjemahkan pengalaman sastranya dalam bahasa ilmiah, dan harus dapat menjabarkannya dalam uraian yang jelas dan rasional. Dalam Ilmu sastra terdapat beberapa cabang ilmu sastra yang mempermudah jalannya studisastra.

Cabang dalam Ilmu Sastra terbagi menjadi 3 bagian, yaitu: Teori sastra, Sejarah sastra, dan Kritik sastra.Teori, Kritik, dan Sejarah Sastra Sunting Dalam sejarahnya, faktor- faktor sosial memengaruhi evolusi genre- genre sastra, seperti epik ritual, puisi lirik, esai, drama, dan novel. Dalam penjabarannya, teori sastra berarti meneliti hal- hal yang berhubungan dengan kesusastraan dalam suatu karya, misalnya gaya bahasa, jenis sastra, hakikat sastra, aliran- aliran dalam sastra, unsur cerita, dll. Teori sastra juga merupakan studi prinsip, kategori,  dan  kriteria. Kritik sastra dan  sejarah  sastra adalah  studi karya-karya konkret.

Menurut salah satu tokoh, ilmu sastra atau studi sastra selaras dengan filologi. Tokoh tersebut adalah Philiph August Boeckh. Dalam bukunya yang berjudul Encyklopadie und Methodologie der Philologischen Wissenschaften (1887), dia menjabarkan bahwa filologi sebagai knowledge of the known. Beberapa bidang yang termasuk adalah studi sastra, bahasa, seni, politik, agama, dan adat istiadat.

Filologi Boeckh didasarkan pada kebutuhan mempelajari karya- karya klasik. Dia mempunyai batasan dalam studi sastra, yaitu studi sastra hanya merupakan satu cabang dari filologi, sebagai ilmu kebudayaan secara menyeluruh. Studi sastra mempunyai ciri khas dalam kegiatannya, yaitu membuat interpretasi, meneliti kekhasan suatu karya, dan memberi penilaian. Ada pendapat yang mengatakan bahwa maksud pengarang adalah bahan utama studi sastra, sebenarnya keliru. Makna karya seni tidak sama atau berhenti pada maksud pengarang. Karya sastra berdiri sendiri sebagai suatu sistemnilai.

Seorang sejarawan sastra tidak akan puas menilai suatu karya sastra dari sudut pandang masa kini saja. Ia akan mengevaluasi masa lalu sesuai dengan kebutuhan gaya dan gerakan sastra masa kini. Mungkin lebih baik lagi, jika sejarawan sastra bisa menyoroti karya sastra dengan sudut pandang zaman ketiga (zaman yang tidak sama dengan pengarang dan kritikus) atau melihat keseluruhan sejarah interpretasi dan kritik pada karya sastra untuk memperoleh makna yang lebih menyeluruh. Dalam kenyataannya, tak ada sejarah yang ditulis tanpa prinsip seleksi dalam usaha memerinci ciri- ciri dan membuat penilaian. Sejarawan sastra yang menolak pentingnya kritik sastra sebetulnya melakukan kritik sastra tanpa disadari.

Ilmu Sastra dan Bagian-bagiannya

Hubungan Ilmu Psikologi dan Sastra

Psikologi dan Sastra Manusia dijadikan objek sastrawan sebab manusia merupakan gambaran tingkah laku yang dapat dilihat dari segi kehidupannya. Tingkah laku merupakan bagian dari gejolak jiwa sebabdari tingkah laku manusia dapat dilihat gejala- gejala kejiwaan yang pastinya berbeda satu dengan yang lain. Pada diri manusia dapat dikaji dengan ilmu pengetahuan yakni psikologi yang membahas tentang kejiwaan. Oleh karena itu, karya sastra disebut sebagaisalah satu gejala kejiwaan (Ratna, 2004: 62). Karya sastra yang merupakan hasil dari aktivitas penulis sering dikaitkan dengan gejala- gejala kejiwaan sebabkarya sastra merupakan hasil dari penciptaan seorang pengarang yang secara sadar atau tidak sadar menggunakan teoripsikologi.

Dasar penelitian psikologi sastra antara lain dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, adanya anggapan bahwa karya sastra merupakan produk dari suatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi setengah sadar atau subconcious setelah jelas baru dituangkan ke dalam bentuk secara sadar (conscious). 

Antara sadar dan tak sadar selalau mewarnai dalam proses imajinasi pengarang. Kekuatan karya sastra dapat dilihat seberapa jauh pengarang mampu
mengungkapkan ekspresi kejiwaan yang tak sadar itu ke dalam sebuah cipta sastra. Kedua, kajian psikologi sastra disamping meneliti perwatakan tokoh secara psikologi juga aspek- aspek pemikiran dan perasaan ketika menciptakan karya tersebut (Endraswara, 2003:26).

Dua hal dasar penelitian psikologi sastra tersebut merupakan aspek psikologi pengarang, sehingga kejwaan  dan pemikiran pengarang sangat mempengaruhi hasil dari karya sastra tersebut. Pengarang dalam menuangkan ide- idenya ke dalam karyanya terkadang terjebak dalam situasi tak sadar atau halusinasi yang dapat  membelokan  rencana pengarang semula.Sastra sebagai “gejala kejiwaan” didalamnya terkandung fenomena- fenomena yang terkait dengan psikis atau kejiwaan. Dengan demikian, karya sastra dapat didekati dengan  menggunakan pendekatan psikologi. Hal ini dapat diterima, karena antara sastra dan psikologi memiliki hubungan yang bersifat tak langsung dan fungsional (Jatman via Aminuddin, 1990:101).

Penelitian psikologi sastra merupakan sebuah penelitian yang menitikberatkan pada suatu karya sastra yang menggunakan tinjauan tentang psikologi. Psikologi sastra dapat mengungkapkan tentang suatu kejiwaan baik pengarang, tokoh karya sastra, maupun pembaca karya sastra. Penelitian psikologi sastra membutuhkan kecermatan dan ketelitiaan dalam membaca supaya dapat menemukan unsur- unsur yang mempengaruhikejiwaan.

Perbedaan gejala- gejala kejiwaan yang ada dalam karya sastra adalah gejala kejiwaan dari manusia- manusia imajiner, sedangkan dalam psikologi adalahgejala kejiwaan pada manusia riil (Endraswara, 2003: 97). Antara psikologi dan sastra akan saling melengkapi dan saling berhubungan sebab hal tersebut dapat digunakan untuk menemukan proses penciptaan sebuah karya sastra. Psikologi digunakan untuk menghidupkan karakter para tokoh  yang  tidak secara sadar diciptakan olehpengarang.

Wellek dan Warren (1995: 91) psikologi sastra mempunyai empat kemungkinan, yakni studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagaipribadi, studi proseskreatif, studi hukum psikologi dan sastra memiliki hubungan yang fungsional yakni sama- sama mempelajari keadaan jiwaseseorang dan mempelajari dampak sastra pada pembaca. Karya sastra dipandang sebagai fenomena psikologis sebab menampilkan aspek kejiwaan yang digambarkan melalui tokoh dan menjadikan manusia sebagai penggerakjiwa.

Tiga cara yang dapat dilakukan untuk memahami hubungan antara psikologi dengan sastra, yaitu memahami unsur- unsur kejiwaan pengarang sebagaipenulis, memahami unsur- unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional dalam karya sastra, memahamiunsur-unsurkejiwaanpembaca(Ratna,2004:343).

Berdasarkan penelitian ini cara yang digunakan untuk menghubungkan  psikologi dan sastra adalahmemahami unsur- unsur kejiwaan tokoh- tokoh fiksional dalam karyasastra.
Wellek dan Warren (1995: 91) psikologi sastra mempunyai empat kemungkinan, yaknistudi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagaipribadi, studi proseskreatif, studi hukum psikologi dan sastra memiliki hubungan yang fungsional yakni sama- sama mempelajari keadaan jiwaseseorang dan
mempelajari dampak sastra pada pembaca. 

Hubungan Sejarah dan Karya Sastra

menurut Richard Hoggart, Literature and Society (1966), sastra agung menembus lebih dalam pengalaman manusia karena kapasitas sastra itu tidak hanya melihat pergerakan individu, akan tetapi jauh lebih dalam melihatgerakan
- gerakan di bawah yang tertampak. Dan sastra juga mampu menyatukan ketidaksamaan pola sebuah masyarakat ibarat menempatkan magnet di antara serpihan besi.


Pada bahasan terakhirnya Swingewood menyinggung kriteria tentang ‘greatness’ yang diselesaikan dengan great literature survives, serta tujuan dasar sosiologi yang dimaksudkan untuk memahami ciri- ciri kerja masyarakat secara keseluruhan dan posisi manusia dalam masyarakat. Pernyataantersebut

ditegaskannya dengan meminjam pendapat Lowenthal bahwa karya sastra mencakup nilai dan simbol fundamental yang menyediakan kohesi kelompok- kelompok yang berbeda.

Hubungan Sastra dan Sosiologi

Karya sastra menurut Swingewood adalah dokumen sosiobudaya yang dapat digunakanuntuk melihat suatu fenomena dalam masyarakat pada masa tersebut. Inilah yang kemudian diistilahkan sebagai dokumentasi sastra yang merujuk pada cerminan jaman. Swingewood mengutip pernyataan Luis De Bonald yang beranggapan bahwa dengan melakukan closereading terhadap suatu karya sastra ‘nasional’, akan diketahui pula apa yang berlaku pada masyarakat tersebut. Demikian juga pernyataan Stendhal bahwa novel adalah “mirror journeying down the high road (Swingewood, 1972: 13).

Lebih jauh, Swingewood menempatkan karya sastra sebagai refleksi langsung (cerminan) berbagai aspek struktur sosial, hubungan kekeluargaan, konflik kelas, trend lain yang mungkin muncul, dan komposisi populasi. Transformasi dari pemaknaan kedirian sastra menuju pemaknaan sosiologis—
pendekatan esktrinsik, menuai beberapa kritik, diantaranya; metode ini semata- mata menjadikan karya sastra sebagai sumber penggalian informasi sosiologis, dan bahwa karya sastra dipindahkan dari luar dirinya karena kurangnya aparatus kritik untuk memahami dan mengevaluasi. 

Metode ini juga dianggap berbahaya’ untuk diterapkan ketika seorang sosiolog (peneliti) tidak memiliki kemampuan cukup yang cukup untuk mengurai partikular historisnya. Oleh karenanya, hanya seorang orang yang memiliki pengetahuan cukup tentang struktur sosial dari sumber lain di luar karya sastra lah yang mampu menemukan, bagaimana dan sejauh mana tipe sosial dan perilaku tertentu direproduksi ke dalam sebuahnovel baik memadai maupuntidak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prosa dan Unsur-Unsur Pembangunnya

1. Pengertian Prosa Prosa adalah suatu jenis karya sastra yang dibedakan dengan puisi karena variasi rime yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata Prosa berasal dari bahasa Latin “prosa”, yang artinya “terus terang”. Prosa menurut KBBI merupakan suatu karangan bebas (tidak terikat oleh kaidah yang terdapat dalam puisi). Adapun jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, serta berbagai jenis media lainnya. Arti tulisan didalam prosa bersifat denotatif atau tulisan yang mengandung makna yang sebenarnya, walaupun terdapat kata kiasan di dalamnya, itu hanya berfungsi sebagai ornamen untuk memperindah tulisan dalam prosa tersebut. Prosa juga dibagi dalam 2 bagian, yaitu prosa lama dan prosa baru. Prosa lama adalah prosa bahasa Indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat, sedangkan prosa baru adalah prosa ya...

Teori, Kritik dan Sejarah Sastra

Bicara tentang kritik sastra, otomatis bicara tentang teori dan sejarah sastra. Perkembangan kritik sastra menjadi catatan sejarah sastra dan juga berpengaruh terhadap perkembangan teori sastra. Kritik sastra sangat erat hubungannya dengan esai. Esai sendiri merupakan karangan berbentuk prosa yang membahas masalah secara sepintas dari sudut pandang pribadi penulis.  Dalam hal ini, kita mendapati di mana dalam kehidupan sehari-hari kita mendapati banyak orang yang menyukai sastra. Kata-kata mutiara, ungkapan-ungkapan yang bersifat persuasif yang merupakan salah satu ciri khas keindahan bahasa sastra. Untuk memahami karya sastra diperlukan pemahaman tentang teori sastra. Pengertian Teori Sastra Teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang  prinsip-prinsip, hukum, kategori, kriteria karya sastra yang  membedakannya dengan yang bukan sastra. Secara umum, yang dimaksud denga teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik  yang...

Sastra Lisan

Sastra lisan adalah kesusastraan yang mencakup ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturun temurunkan secara lisan (dari mulut ke mulut).Pada dasarnya sastra lisan dalam bahasa indonesia berasal dari bahasa inggris oral literature. Ada pula yang mengatakan berasal dari bahasa belanda orale letterkuade. Kedua pendapat mengenai istilah sastra lisan di atas dapat dibenarkan. Akan tetapi, yang menjadi persoalan adalah istilah itu dalam dirinya sendiri mengandung kontradiksi. (pinnegan, 1977: 167), sebab kata literature (sastra) itu merujuk pada kata literae, yang bermakna letters.Yang dinamakan sastra lisan atau kesusastraan lisan adalah kesusatraan yang mencakup ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturun menurunkan secar lisan (dari mulut kemulut). Di Negara-negara Asia dan Afrika sastra lisan atau kesusastraan ini sangat berperan penting dalam masyarakat, sebab masyarakat  masih banyak yang buta huruf (umumnya par...