Karya sastra memiliki berbagai macam pendekatan untuk mengkajinya. Mengkaji karya sastra, tidaklah cukup hanya berpedoman pada pengaranganya atau karya itu sendiri, karena karya sastra masih memiliki unsur lain, yaitu dunia karya sastra, pembaca karya karya sastra dan latar belakang pengarangnya.
Analisis, bagaimanapun merupakan proses pembongkaran entitas yang memerlukan metode yang ketat. Sedangkan Pendekatan merupakan alat untuk menangkap realita atau fenomena sebelum dilakukan kegiatan analisis atas sebuah karya.
Pendekatan berorientasi pada teks atau objektif
Pendekatan objektif ialah pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra secara keseluruhan. Pendekatan ini mengkaji suatu karya sastra hanya pada karya sastra itu sendiri, artinya melihat unsur pembangun karya sastra itu dari dalam. Konvensi tersebut misalnya, kebulatan makna, diksi, rima, struktur kalimat, tema, plot, setting, karakter, dan sebagainya. Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menelaah karya sastra tanpa melihat unsur pembangun eksternalnya, sehingga peneliti dapat berkonsentrasi menilai suatu karya sastra tanpa perlu melihat latar belakang pengarangnya.
Pendekatan berorientasi teks dapat dibagi dalam empat pembahasan, yaitu: filologi, retorika dan stilistika, formalism dan strukturalisme serta semiotika dan dekonstruksi. Pendekatan objektif lebih menganggap karya sastra sebagai suatu yang dapat berdiri sendiri.
Pendekatan objektif dapat dikategorikan kedalam beberapa jenis, diantaranya:
a. Filologi
Filologi menunjukkan pendekatan yang memusatkan sekitar masalah editorial dan rekonstruksi teks.[3] Filologi, yang mengalami masa jayanya di Renaissance dengan penemuan kembali penulis kuno, penemuan mesin cetak, dan keinginan untuk mengedit teks dengan benar, tetap menjadi salah satu yang dominan dalam abad kesembilan belas.
b. Retorika dan stilistika
Selain masalah editorial, pendekatan berorientasi teks saat ini berfokus terutama pada aspek bentuk (tekstual dan narasi struktur, sudut pandang, alur-pola) dan gaya (kiasan retoris, pilihan kata atau diksi, sintaks, meter). Pada abad kesembilan belas, Retorika akhirnya kehilangan pengaruh dan sebagian berkembang menjadi Stilistika,Stilistika difokuskan pada struktur tata bahasa (lexis, sintaks), unsur-unsur akustik (melodi, sajak, meter, ritme) dan bentuk menyeluruh (kiasan retoris) dalam analisisnya teks.
c. Formalism dan strukturalisme
Istilah Formalisme dan Strukturalisme mencakup beberapa bidang di paruh pertama abad kedua puluh yang tujuan utamanya terletak pada penjelasan dari pola formal dan struktural teks sastra. Formalisme dan strukturalisme ini berusaha menjelaskan pola dan struktur kebahasaan dalam teks sebuah karya sastra.
Pendekatan struktural, sering juga dinamakan pendekatan objektif, pendekatan formal, atau pendekatan analitik, bertolak dari asumsi dasar bahwa karya sastra sebagai karya kreatif memiliki otonomi penuh yang harus dilihat sebagai suatu sosok yang berdiri sendiri.
d. Semiotika dan Dekonstruksi
Semiotika dan dekonstruksi adalah metode terbaru dalam teori sastra yang berorientasi pada teks. Pendekatan ini menganggap bahwa teks sebagai sistem tanda. Artinya setiap teks yang terdapat pada karya sastra mewakili objek tertentu yang disebut petanda.
Pendekatan berorientasi pada pengarang atau ekspresif
a. Kritikbiografi
Pendekatan biografi menganggap bahwa setiap karya sastra selalu dipengaruhi oleh latar belakang penulis. Baik dalam bentuk diksi, jalan cerita ataupun konteks dalam karya sastra itu sendiri. Biografi atau latarbelakang penulis secara tidak langsung mempengaruhi pada karya yang ditulisnya.
b. Pendekatan psikoanalitik
Psikoanalitik merupakan sebuah kritik sastra yang kadang-kadang berkaitan dengan penulis, terutama mencoba untuk menjelaskan aspek-aspek psikologis umum dalam teks yang tidak selalu berhubungan dengan penulis secara eksklusif.
c. Fenomenologi
Pendekatan ini berasumsi bahwa penulis hadir dalam teks dalam bentuk disandikan dan jiwanya dapat dihidupkan kembali oleh membaca intensif karya lengkapnya. Pendekatan ini beranggapan bahwa dari sebuah karya sastra dapat di ketahui karakteristik penulisnya.
Pendekatan berorientasi pembaca atau pragmatik.
Pendekatan pragmatik berorientasi pada pembacanya, artinya suatu karya sastra dikatakan berhasil apabila bisa memberikan kesenangan dan nilai di dalam suatu karya sastra. Perasaan seorang pembaca akan melahirkan katarsis dari bacaan yang sudah dibacanya, sehingga pembaca mampu melahirkan suatu karya lain dari karya yang sudah dibacanya. Pembaca karya sastra juga dapat kita klasifikasikan kembali, yaitu pembaca yang memang sudah memahami bahasa sastra dan pembaca awam yang belum memahami bahasa sastra.
Pendekatan pragmatik akan lebih berhasil apabila kita meneliti pembaca karya sastra yang memang memiliki ketertarikan dan pemahaman dalam bidang sastra, sehingga data yang dihasilkan akan lebih akurat. Kemampuan pembaca juga memiliki hambatan, di antarnya faktor internal dan eksternal.
Faktor internal pembaca biasanya datang dari perasaan pembaca itu sendiri, seperti faktor psikologi saat sedang membaca, pengetahuan, dan pendidikan pembaca tersebut. Faktor eksternal yang mempengaruhi pembaca seperti kondisi sekitar saat dia membaca, tingkat kenyamanan tempat saat dia membaca, akan mempengaruhi pembaca tersebut dalam menangkap pesan yang ingin disampaikan dalam suatu karya sastra.
Pendekatan berorientasi kontekstual atau mimesis
Pendekatan ini bertolak dari pemikiran bahwa karya sastra merupakan refleksi kehidupan nyata. Hal ini terwujud berkat imajinasi pengarang, sehingga mampu merefleksikan kehidupan atau alam. Pendekatan mimesis pengarang berusaha melukiskan dunia nyata ke dalam bentuk karya sastra, sehingga pembaca yang membaca menggunakan pendekatan mimesis ini, haruslah memandang suatu karya sastra yang dibuat oleh seorang pengarang merupakan refleksi dari kehidupan yang coba dilukiskan oleh pengarang.
Berbicara mimesis, tidak dapat dilepaskan dari pemikiran filosof terkenal, yaitu Plato. Plato mengemukakan bahwa mimesis terikat pada ide pendekatan, tidak semata-mata merupakan tiruan yang sungguh-sungguh. Bagi Plato, seni yang baik harus mengungkapkan kebenaran dan kerendahan hati pengarangnya dalam membuat suatu karya.
Pencitraan seorang pengarang terhadap dunia, yang diproyeksikan melalui suatu karya sastra, dapat dimaknai berbeda-beda oleh setiap pembacanya, tergantung bagaimana pembaca itu memandang suatu karya tersebut. Karena itu, dalam teori mimesis tidak tertutup kemungkinan bahwa tataran nilai yang rendah dalam kehidupan nyata, akan mampu divisualisasikan dalam karya seni yang bernilai tinggi.
Komentar
Posting Komentar