Sastra adalah suatu hal yang sudah tidak asing lagi terutama bagi para penikmat sastra itu sendiri. Akan tetapi, bagaimana dengan mereka yang baru mengenal sastra? Atau bahkan baru tahu dan baru mendengar kata sastra?
Ada baiknya, yuk! kita simak bagaimana hakikat, sifat dan fungsi sastra sebelum mengenal sastra lebih jauh lagi!
PENGERTIAN SASTRA
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sastra adalah bahasa (kata-kata; gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari). Sastra merupakan karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain memiliki berbagai ciri keunggulan, seperti keaslian, keartristikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya, drama, epic, dan lirik.
Sastra adalah kata serapan dari bahasa sanskerta, sastra, yang berarti, “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar 'sas' yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.
Selain itu, dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu. Biasanya, kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa. Suatu hasil karya baru dapat dikatakan memiliki nilai sastra bila di dalamnya terdapat kesepadanan antara bentuk dan isinya. Bentuk bahasanya baik dan indah, dan susunannya beserta isinya dapat menimbulkan perasaan haru dan kagum di hati para pembacanya.
HAKIKAT SASTRA
Hakikat merupakan segala sesuatu yang berada pada sesuatu yang dasar dari sebuah konstruksi pemikiran. Dalam pola berfikir manusia, pemahaman makna dari suatu objek di lihat dari istilah, asal-usul istilah, fungsi dan kebergunaanya dalam konteks kehidupan sehari hari.
Dalam bahasa Arab, ungkap Partini (2005:6) dengan mengutip pendapat Teeuw, tidak ada sebuah kata artinya bertepatan dengan sastra. Kata yang paling dekat barangkali adalah kata adab (ادب).
Dalam arti sempit, adab berarti belles-lettres atau susastra, tetapi sekaligus juga berarti kebudayaan (civilization) atau dalam kata Arab lain, tamaddun. Di samping itu, ada berbagai kata yang menunjukkan genre jenis sastra tertentu, seperti kasidah dan sudah tentu pula kata syi’r yang berarti puisi.
Meskipun demikian, sastra sebagai konsep yang khas tidak diberi istilah yang umum dalam kebudayaan Arab. Sementara dalam bahasa Indonesia, adab berarti kesopanan, kehalusan, dan kebaikan budi pekerti atau akhlak (Lukman Ali, 1994:5).
Secara historis, kata adab dalam bahasa Arab mempunyai bermacam-macam sesuai dengan masanya di mana kata itu dipergunakan. Misalnya, pada masa jahiliyah, orang Arab menggunakan kata adbun (bukan adab), yang berarti undangan untuk menyantap makanan (الدعوةالى الطعام). Tradisi semacam ini merupakan suatu perbuatan yang amat terpuji dan bentuk moral yang tinggi.
SIFAT SASTRA
Bahasa adalah bahan baku kesusastraan, tetapi perlu disadari bahwa bahasa bukan benda mati dan linguistic dari kelompok pemakai bahasa tertentu. Untuk melihat penggunaan bahasa yang khas sastra, kita harus membedakan bahasa sastra, bahasa sehari-hari dan bahasa ilmiah.
Sastra juga mendukung pikiran, sedangkan bahasa emosional tidak dimiliki oleh sastra. Bagaimanapun, bahasa ilmiah bersifat arbitrary (dipilih secara kebetulan, tanpa aturan tertentu), jadi dapat digantikan oleh tanda lain yang sama artinya. Tanda juga bersifat maya, tidak menarik perhatian pada dirinya sendiri, tapi menunjuk langsung pada yang diacunya.
Salah satu batasan “sastra” adalah segala sesuatu yang tertulis stsu tercetak. Ilmuan sastra “tidak terbatas pada belles letters atau manuskrip cetakan atau tulisan dalam mempelajari sebuah periode atau kebudayaan”, dan kerja ilmuan sastra harus dilihat “dari sumbangnnya pada sejarah kebudayaan”.
Menurut teori Greenlaw dan praktek banyak ilmuan lain, studi sastra bukan hanya berkaitan erat, tapi identik dengan sejarah kebudayaan. Studi yang berkaitan dengan sejarah kebudayaan cendenrung menggeser studi sastra yang murni. Menyamakan sastra dengan sejarah kebudayaan berarti menolak studi sastra sebagai bidang ilmu dengan metode-metodenya sendiri.
Cara lain untuk memberi definisi pada sastra adalah membatasinya pada “mahakarya” (great books), yaitu buku-buku yang dianggap “menonjol karena bentuk dan ekspresi sastranya”. Dalam hal ini, kriteria yang dipakai adalah segi estetis, atau nilai estetis dikombinasikan dengan nilai ilmiah.
FUNGSI SASTRA
Dalam kehidupan masyarakat, sastra punya beberapa fungsi yaitu :
1. Fungsi Rekreatif
Sastra dapat memberi hiburan menyenangkan bagi penikmat atau pembaca.
2. Fungsi Didaktif
Sastra mampu mengarah atau mendidik pembaca karena nilai kebenaran kebaikan yang terkandung didalamnya.
3. Fungsi Estetis
Sastra mampu memberikan keindahan bagi penikmat dan pembacanya sebab sifat keindahannya.
4. Fungsi Moralitas
Sastra mampu memberikan pengetahuan pada pembaca dan peminatnya, sehingga tau moral yang baik dan buruk, oleh karena itu sastra yang baik selalu mengandung moral yang tinggi.
5. Fungsi Religius
Sastra juga menghasilkan karya yang mengandung ajaran agama yang bisa diteladani penikmat atau pembaca sastra.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa sastra adalah kata serapan dari bahasa sanskerta, sastra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar sas yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia, kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.
Komentar
Posting Komentar